PUASA PIKIRAN

Sudah banyak dibahas, puasa (ash-shiyam) secara bahasa bermakna al-imsak, yaitu memegang atau mengendalikan.

Dalam level paling rendah dari puasa adalah mengendalikan satu lubang dalam diri, berupa mulut, dari makanan dan minuman, mulai subuh sampai maghrib.

Dalam level yang setingkat lebih tinggi, puasa adalah mengendalikan lubang sembilan dalam tubuh (ngeker howo songo).

Setingkat lebih tinggi lagi adalah mengendalikan pikiran, atau dalam hal ini disebut dengan istilah puasa level pikiran.

Ada ungkapan begini: bila ada kawan terbaik, maka itu adalah pikiran yang tertata. Bila ada kawan terburuk, maka itu adalah pikiran yang liar tak terkendali.


Kesembuhan, kedamaian dan keberkahan akan terlahir ketika pikiran sudah mampu “melepas” agar kehidupan berjalan sebagaimana adanya. Tidak ada keinginan dan ambisi untuk mengontrol, mengendalikan dan memaksakan kehidupan (orang lain dan kejadian) agar berjalan sesuai keinginan diri sendiri.

Untuk bisa bernafas dengan lancar, kita hanya perlu membiarkan hidung dan paru-paru bekerja secara alami. Pikiran tidak perlu ikut mengontrol kerja paru-paru. Paru-paru sudah otomatis bekerja dengan kesadarannya sendiri, tidak perlu kita kontrol dengan pikiran.

Begitu juga kehidupan ini, ia memiliki kesadaran. Sebelum kita lahir kehidupan ini sudah ada. Dan setelah kita meninggal nanti, kehidupan ini masih akan terus ada. Artinya kehidupan ini akan terus berjalan sendiri, tanpa perlu kita kendalikan. Karena kehidupan punya kesadaran.

Pikiran yang masih kaku membeku akan terus memelihara ambisi dan keinginan untuk mengontrol dan mengendalikan (bahkan memaksa) kehidupan (orang lain dan kejadian) agar berjalan sesuai dengan keinginan dirinya. Inilah yang dinamakan pikiran yang masih diselimuti kebodohan (jahiliyah/avijja). Inilah akar utama penderitaan.

Terus apa yang membelengu pikiran sampai seperti itu? Pikiran yang kaku membeku karena terbelenggu “keakuan”, sehingga pikiran tidak mau berserah (al-islam), maunya terus mengendalikan, mengontrol bahkan memaksakan kehidupan (orang lain dan kejadian) agar berjalan sesuai keinginan dirinya.

Anehnya, kehidupan semakin berusaha untuk dikontrol (apalagi dipaksa), justru ia semakin melawan. Ini hukum kehidupan secara umum: what you presist, resist. Apa saja dan siapa aja yang engkau coba untuk kendalikan, ia akan balik melawan dirimu.

Sudah tidak terhitung sahabat yang ambruk oleh beragam penyakit dan penderitaan, karena kelelahan berkelahi dengan kehidupan, berawal dari keinginan untuk terus mengontrol dan mengendalikan kehidupan tanpa henti.

Tulisan ini sekaligus jadi jawaban, atas pertanyaan sahabat-sahabat yang menanyakan kenapa tak kunjung usai bertemu konflik, kerugian, rasa sakit dan penderitaan.

Buka jendela kesadaran, agar pikiran yang kaku membeku mulai lentur. Baru diikuti dengan belajar melepas ambisi dan keinginan untuk mengontrol (apalagi memaksa) kehidupan. Masuklah “islam” (berserah diri) dalam kesempurnaan pengaturan kehidupan. Inilah puasa di level pikiran.

Sehingga sering dikatakan: ia yang pikirannya ikut berpuasa, akan mampu menyaksikan kehidupan ini sudah indah adanya.

~ sekolah bahagia ~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *